Friday, May 9, 2014

Sejarah Batik

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknikteknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober2009.[1]

Etimologi

Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik".[rujukan?]

Sejarah teknik batik

Tekstil batik dari Niya (Cekungan Tarim), Tiongkok
Detail ukiran kain yang dikenakanPrajnaparamita, arca yang berasal dari Jawa Timur abad ke-13. Ukiran pola lingkaran dipenuhi kembang dan sulur tanaman yang rumit ini mirip dengan pola batik tradisional Jawa.
Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan diMesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, sertaSuku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti TorajaFlores,Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di KediriJawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4] Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggrisdi Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Hugh Clifford merekam industri di Pekan tahun 1895 bagi menghasilkan batik, kain pelangi, dan kain telepok.[6]

Budaya batik

Pahlawan wanita R.A. Kartini dan suaminya memakai rok batik. Batik motif parang yang dipakai Kartini adalah pola untuk para bangsawan
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Batik Cirebon bermotif mahluk laut
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
Batik dipakai untuk membungkus seluruh tubuh oleh penari Tari Bedhoyo Ketawang di keraton jawa.

Corak batik

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan olehTionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Cara pembuatan

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti suterapoliesterrayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Jenis batik

Pembuatan batik cap

Menurut teknik

  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
  • Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.

Menurut asal pembuatan

Batik Jawa
batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunyai motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.

Motif Batik

Berdasarkan daerah asal

Berdasarkan corak

Lihat pula

Batik Bangka Belitung

Bangka Belitung, Provinsi yang baru diresmikan tahun 2000 ini selain mempunyai keindahan alamnya yang khas juga mempunyai kain tradisional yang indah pula dengan kisah tersendiri. Kain tradisional yang terkenal dari Bangka Belitung adalah Kain Cual Bangka. Kain Cual Bangka merupakan kain tenun yang memiliki motif yang cantik, unik, dan khas. Motif kain cual merupakan motif asli Bangka Barat peninggalan leluhur yang selama ini belum begitu populer karena produksinya sangat minim.
Kain Cual Bangka ini sama halnya dengan kain tenun khas Palembang yaitu songket. Namun, Tenun Cual memiliki warna khas Melayu yang lebih cerah dan memiliki lengkungan serta selalu dengan motif flora dan fauna. Ada sembilan motif cual yang telah resmi dipatenkan oleh pemerintah yakni Kembang Kenanga, Bebek dan Kembang Sumping, Ubur-ubur, Merak, Gajah Mada 2003, Kembang Setangkai dan Kembang Rukem, Bebek Setaman, Kembang Rukem dan Kembang Setaman. Masih banyak juga motif yang lainnya dan masing-masing memiliki keunikan serta ciri tersendiri.
Kain Cual Bangka
Kain Cual Bangka
Sumber: http://travel.detik.com
Kain cual ini aslinya adalah kain tenun songket, namun agar bisa dipakai sehari-hari oleh masyarakat Bangka sehingga dimodifikasinya menjadi kain batik. Kain cual pertama diciptakan berupa tenun, namun pada perkembangannya diproduksi dengan cara dibatik karena lebih mudah pengerjaannya dan bisa dilakukan massal.
Batik Bangka Motif Cual
Batik Bangka Motif Cual
Sumber: http://contenttugas.wordpress.com
Motif-motif yang unik nan indah tersebut menjadi inspirasi untuk dikembangkan pada kain batik khas Bangka atau biasa disebut Batik Cual. Saat ini produksi Batik Bangka masih terbatas dan belum terkenal seperti batik dari daerah lain. Namun Batik Bangka akan mampu bersaing karena memiliki kekhasan sendiri dengan aneka ragam motif khas Melayu.
Batik Bangka Motif Cual
Batik Bangka Motif Cual
Sumber: http://batikbangka.wordpress.com
Batik Cual mempunyai keunikannya tersendiri, motifnya hanya ada dua yaitu flora dan fauna. Sesuai dengan nama motif-motifnya seperti kembang gajah, burung hong, bebek-bebekan, naga bertarung, corak kepiting, udang dan cumi-cumi dan masih banyak corak lainnya. Setiap motif Batik Bangka mempunyai filosofi tersendiri, misalnya motif bunga yang mencerminkan kesucian, keanggunan rezeki dan segala kebaikan, contoh lain adalah motif bebek yang mencerminkan persatuan dan kesatuan.
Batik Bangka Motif Cual
Batik Bangka Motif Cual
Sumber: http://sketsabudaya.blogspot.com
Batik Bangka Motif Cual
Batik Bangka Motif Cual
Sumber: http://sketsabudaya.blogspot.com

Di Kabupaten Belitung Timur juga terdapat Batik Bangka dengan motif yang unik yaitu Gelas Kopi. Gelas kopi yang asapnya mengepul menjadi salah satu motif buatan khas Belitung Timur. Batik ini sebagai simbol kecamatan Manggar yang dijuluki Kota 1001 Warung Kopi. Selain itu juga terdapat Batik Bangka dengan motif katis rambai (daun pepaya yang buahnya kecil menjuntai), kupu-kupu di daun simpor, dan ikan air tawar Cempedik yang disebut hanya ada di Belitung.
Batik Bangka Motif Gelas Kopi
Batik Bangka Motif Gelas Kopi
Sumber: http://www.antarababel.com
Menggunakan batik dalam berbagai cara untuk berbagai kegiatan sebenarnya menjadi salah satu wujud rasa kebanggaan dan kecintaan pada batik. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui Gubernur Kepulauan Bangka Belitung menghimbau kepada seluruh pegawai agar menggunakan Batik Cual setiap hari Jum’at sebagai upaya pelestarian dan mempromosikan kain bermotifkan tradisional tersebut. Setiap kabupaten kota punya warna dan motifnya sendiri. Contohnya saja, PNS Belitung Timur memakai batik warna merah motif bebek-bebekan, kalau PNS Bangka Barat itu motifnya burung Hong, sedangkan Bangka Selatan memakai batik kain cual motif lada.
Batik Bangka
Batik Bangka
Sumber: http://ktupat.blogspot.com
Upaya Pemerintah yang lain untuk mempopulerkan kain batik motif cual yaitu melalui lomba cipta dan peragaan busana. Selain itu pameran produk usaha kecil dan menengah (UKM) lokal dengan melibatkan seluruh pelaku usaha batik di daerah itu.
Jika anda berkunjung ke Bangka Belitung, sempatkanlah mampir ke tempat pengrajin Kain Cual dan kain Batik Bangka yang terletak di Jl. Jendral A. Yani no 46, Pangkalpinang.
Showroom Batik Bangka
Showroom Batik Bangka
Sumber: http://travel.detik.com